Tuesday, March 27, 2007

Kapal Putih dan Kapal Perintis

Suara Perempuan Papua, No. 31 Th III/25 Maret-1 April 2007

Ada dua jenis kapal penumpang yang melayani masyarakat Jayapura.Yaitu kapal besar yang dikelola PT Pelni dan kapal-kapal perintis. Keselamatan penumpang belum diutamakan.

Sedikitnya ada empat kapal yang dikelola oleh PT Pelayaran Indonesia (Pelni), masing-masing KM Sinabung, KM Labobar, KM Nggapulu dan KM Doronlonda, dengan trayek yang berbeda-beda. KM Labobar dan Nggapulu adalah kapal terbaru Pelni yang dioperasikan di Papua. Kapal Jerman itu penggunaannya dimulai tahun 2004 an yang lalu dan rutin naik dok setiap tahunnya. “Mengganti alat yang rusak dan menambal bagian yang karat atau keropos,” kata Suhartono, Kepala Pelni Jayapura.

Trayek dari masing-masing kapal adalah KM Sinabung dengan rote pelayanan lepas pelabuhan Jayapura menuju Serui, Manokwari, Sorong, Makassar, Surabaya dan finish di pelabuhan Tanjung Priok. Kemudian KM Labobar lepas pelabuhan Jayapura, Nabire, Manokwari, Sorong, Makassar, Bau-Bau dan finish di pelabuhan Tanjung Priok.
Selanjutnya KM Nggapulu lepas pelabuhan Jayapura menuju Biak, Serui, Nabire, Manokwari, Sorong, Ternate, Bitung, Pantolon, Surabaya dan berakhir di pelabuhan Tanjung Priok sementara KM Dobonsolo lepas dari pelabuhan Jayapura menuju Serui, Nabire, Manokwari, Sorong, Fakfak, Ambon, Bau-Bau, Makassar dan finish di pelabuhan Surabaya.

Pada keadaan normal, tiket Kapal Putih yang terjual per satu kali berlayar itu sedikitnya 1500 tiket. Tujuan utama sebagian penumpang yang menumpang jasa pelayanan laut adalah antar kabupaten di Papua. “Sampai di pelabuhan Sorong penumpang sudah berkurang, sementara penumpang yang berangkat ke bagian Barat sedikit,” kata Suhartono.

Lain halnya pada bulan-bulan tertentu seperti hari-hari libur atau peak season, seperti liburan sekolah, Idul Fitri, dan hari Natal. Dalam masa ini, tiket yang terjual berkisar antara 2500 – 3000 lembar. Jumlah ini termasuk tiket yang dijual pada agen-agen resmi Pelni di Jayapura.

“Kami punya agen resmi yang biasa jual tiket. Sedikitnya ada empat masing-masing Kuwera, Pelni lama, Pintu masuk pelabuhan Jayapura dan di atas kapal, mereka adalah kepanjangan tangan dari Pelni cabang Jayapura. Hal itu dilakukan dengan tujuan mempermudah pelayanan kepada masyarakat yang menggunakan jasa laut”, ungkapnya.
Ketika ditanya soal kapasitas muat dari masing-masing kapal penumpang, ia mengatakan kapasitasnya berkisar antara 2500 hingga 3000 penumpang, karena itu pada saat liburan pihak Pelni memberikan dispensasi tempat tidur kepada penumpang.

Sedikitnya 50 persen penumpang kapal-kapal Pelni naik dari pelabuhan Jayapura sedang sisanya berasal dari pelabuhan lain yang disinggahi oleh masing-masing kapal sesuai trayeknya. Sedangkan kaitan dengan pengaruh jatuhnya pesawat dengan keinginan penumpang untuk memilih jasa angkutan laut khusus untuk Papua belum terlalu nampak dan masih berjalan normal barangkali lebih dirasakan adalah Indonesia bagian barat.

Sementara itu pelayanan angkutan laut tidak hanya dilayani oleh Pelni saja. Tapi juga dilayani oleh kapal-kapal perintis. Kapala-kapal perintis ini mempunyai daya angkut antara 100-200 penumpang dalam kondisi normal. Tapi dalam kondisi tidak normal, penumpang bisa mencapai 400 penumpang. ”Berjubel bahkan kapal kadang jalannya sempat miring,” kata sebuah sumber di Pelabuhan Jayapura.Kondisi penuh terjadi pada bulan-bulan mendekati Idul Fitri atau Natal atau liburan sekolah.

Kapal Perintis untuk Jayapura terdapat lima pangkalan, di Biak tiga pangkalan, Manokwari tiga pangkalan, Sorong dua pangkalan dan Merauke enam pangkalan, sedang perintis penyeberangan (kapal ferry) dua di pangkalan Biak, dua pangkalan di Sorong dan dua pangkalan di Merauke.

“Khusus untuk perintis penyeberangan masih sangat kurang sehingga Direktorat Perhubungan telah memprogramkan untuk menambah dua kapal perintis penyeberangan di teluk Cenderawasih dengan rute Biak- Saubeba- Kapuena Waropen-Nabire-Manokwari Numfor kemudian ke Biak lagi,” kata Solaiman Wairo, Kepala Dinas Perhubungan.

Perlu diketahui, dari 43 unit kapal perintis yang ada di Indonesia, sekitar 19 unit berada di wilayah Papua termasuk di antaranya KM Papua 1, 2, 3, 4 dan 5. Sembilan belas unit kapal perintis yang beroperasi di wilayah Papua tersebut, berpangkalan pada lima tempat. Pelabuhan kota Jayapura 5 kapal termasuk KM Papua 1,2,3, dan 4, di Biak 5 kapal, Manokwari 3 kapal, Sorong 2 kapal dan Merauke 6 kapal. Semua kapal tersebut, melayari daerah-daerah terpencil bahkan yang belum dijamah sekalipun hingga seperti di pulau Mapia.

Sejauh ini, kapal perintis yang ada di Papua telah menyinggahi sedikitnya 120 pelabuhan. Dari jumlah tersebut sekitar 80 persennya adalah pelabuhan-pelabuhan daerah terpencil.
Seluruh biaya operasional kapal Perintis swasta dan milik pemerintah semua dibiayai oleh pusat (APBN) dan bukan oleh APBD.

Pada 2005 lalu, kapal perintis yang berpangkalan di Jayapura subsidinya mencapai Rp 17.864.000.000 dalam satu tahun anggaran. Jumlah ini belum termasuk kapal perintis yang berpangkalan di pelabuhan lain yang sudah pasti memiliki jumlah subsidi yang berbeda pula.

Kapal Perintis yang beroperasi di Papua pada tahun 2005, dikelolah oleh Dinas Perhubungan Provinsi Papua, namun untuk saat ini sudah beralih ke Perseroan Terbatas (PT).

Perlu diketahui bahwa Subsidi biaya operasional Tahun 2005 untuk KM Papua 2 sebesar RP 15 miliar, KM Papua 3 sebesar Rp 7 miliar, dan KM Papua 4 sebesar Rp 9 Miliar. Dan semua subsidi ini diberikan dalam setiap tahun anggaran. Karena dibiayai anggaran negara ini, maka tak heran bila jika terjadi masa transisi tahun anggaran, maka operasional mereka pun terganggu. Seperti yang terjadi pada pertengahan tahun lalu. Kapal-kapal perintis itu tidak bisa berlayar karena kehabisan dana operasional. Maklum, ongkos dari penumpang tidak seberapa karena subsidi pemerintahnya besar. Karena mengejar setoran, kadang jumlah penumpang tidak diperhitungkan dengan jumlah tempat yang tersedia. “kala ramai, kadang berdiri saja sulit,” kata sebuah sumber.

Untuk Tahun anggaran 2006 semua biaya untuk kapal perintis yang terangkum dalam DIPA melalui Dinas perhubungan yang totalnya Rp 331,9 miliar sudah termasuk subsidi angkutan udara, darat dan laut. Maria Eria, Yoseas Wambraw/Eri Sutrisno


Tabel: Data Kapal

KM.Papua dua
Panjang 43,643m, kecepatan 12 konts, 16 ABK, daya angkut 100 penumpang, dan 50 tempat duduk, melayari rute, Jayapura-Sarmi-Serui-Ansus-Biak-Saribi-Manokwari-Sausapor-Sorong-Teminabuan-Sorong-Saonek-Moesmengkara-Mutus-Manyaipun-Selfele-Waisai-Saonek-Sorong-P.Gag-Kofiau-Waigama-Lenmalas-Measkopal-Fafanlaf-Sorong-Sausapor-Manokwari-Saribi-Biak-Biak Ansus-Serui-Sarmi-Jayapura.

KM Papua tiga
Panjang kapal 58,00m, bobot mati 750 DWT, kecepatan jelajah 12 knot, ABK 18 orang, deck satu penumpang 60 orang, deck dua penumpang 168 orang, deck tiga penumpang 122 orang, kabin penumpang (tiga VIP) masing-masing satu orang dan kabin penumpang 8 delapan orang sehingga jumlah keseluruhan 368 orang. KM. Papua.
Rute: Jayapura-Sarmi-Serui-Waren-Nabire-Wasior-Manokwari-Saukorem-Sausapor-Sorong-Bintuni-Babo-Fakfak-Kaimana-Pomako-Agats-Merauke PP.
KM Papua V
Kapal ke-17 diresmikan penggunaannya 12 Oktober 2006.
Kapal dibangun oleh Departemen Perhubungan (Dephub) RI ini, memiliki kapasitas 500 DWT disertai kapasitas muatan 200 ton yang dilengkapi pula dengan tempat tidur untuk 200 orang, tempat duduk untuk 50 orang, dan 14 kru atau Anak Buah Kapal (ABK).
Kapal Motor Papua Lima seharga Rp 16 miliar itu memiliki kecepatan 12 knot per jam. Kapal dioperasikan pada rute Biak-Saribi-Manokwari-Saukorem-Sorong-Bintuni-Babbo-Fak Fak-Karas-Pulau Adi-Kaimana dan berakhir di Pomako (Timika),"

KM Nggapulu
Kecepatan jelajah (V) (80%MCR, 0 S.M) 22,40 knot, Jarak jelajah 5.500 mil, dengan kapasitas penumpang adalah kelas IA (18 kabin @ 2 orang) 36 orang, kelas 1B (14 kabin @ 4 orang ) 56 orang, kelas 1S (6 kabin @ 2 orang) 12 orang, kelas Ekonomi 2066 orang jumlah 2.170 orang, Crew 155 orang totalnya 2.325 orang, peti kemas 22 unit 20 feet dan barang dan pos 125 m3.
Tanggal kontrak 30 April 1999, tanggal efektif kontrak 20 Januari 2000,
Diresmikan oleh Ny Linda Agum Gumelar, tanggal penyerahan 26 Februari 2002 dan tempat penyerahan di Papenburg, Jerman.
Pemilik Direktoral Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan Republik Indonesia, operator PT PELNI (PT. Pelayanan Nasional Indonesia), pembangunan Gelangan Jos L. Meyer Gmbh& Co.Papenburg, Germany.



No comments: